(Mengusap air mata, duduk di sisi patung batu) "Anakku... meskipun kau telah menjadi batu, ibu tetap memaafkanmu."
(Tetangga menunjuk ke arah perahu yang baru saja merapat)
(looking at the shore) Captain, an old woman is walking toward us. She seems to know you. She keeps calling your name — Malin, she says. Shall I send her away?
(Berjalan agak pincang, meneduhkan matanya) "Benarkah, Wahai Tetangga? Benarkah itu Malin, anakku yang kucintai? Setelah bertahun-tahun aku menunggu dengan airmata dan doa, akankah dia pulang?"
(Menangis) Ini aku, Malin. Mande, ibumu. Lihat bekas luka di tanganmu ini, aku yang merawatmu dulu saat kau jatuh. Bagaimana kau bisa lupa?